Pertanyaan manusia
Saat aku kecil banyak orang bertanya "Namanya siapa? Umurnya berapa?"
Lalu beberapa tahun kemudian muncul lagi pertanyaan "Sekolah di mana? Kelas berapa?"
Tahun berganti lagi... "Katanya nilainya bagus - bagus ya... Mau lanjut SMP di mana?"
Lagi dan lagi tahun berganti pertanyaan selalu ada dan makin naik pula kelas pertanyaannya. "Lulus SMA lanjut ke mana nih... Atau langsung nimah nih... hehe. Bercanda yaa".
Udah masuk perguruan tinggi pun pertanyaan tiada kunjung henti. Level nya semakin meroket. "Uda semester berapa nih. Kok gak lulus - lulus. Skripsinya udah nyampe mana nih?"
Selang berdekatan lagi muncul pertanyaan "Wah, bentar lagi wisuda nih. Lanjut S2 atau kerja nih?"
Lagi, lagi, lagi, "Wah, uda kerja nih. Kok gak nikah - nikah?" (Masih santai)
Laaaagiii... "Temen - temen udah pada nikah. Kok masih belum aja?" (Masih sedikit santai)
Daaan lagiii lagiii "kapan ki nikahnya? Ditunggu lo undangannya. Yang lain uda pada punya anak loh" (mulai gak enak hati)
Udah nikah juga ahirnya ditanya lagi "Uda isi belum?" (Biasa aja)
Beberapa Bulan kemudian "Uda isi belum? Kok lama banget". (Menyakitkan)
Beberapa Bulan lagi "Masih belum hamil juga? Temen2 yang lain udah hamil loh" (Menyakitkan tingkat tingkat"
Dari semua Kemasan model pertanyaan itu, aku menyadari satu hal. Orang yang bertanya TERKADANG tidak untuk mengetahui benar kondisi kita tetapi hanya untuk basa - basi. KARENA orang terdekat kita tidak akan bertanya dengan kemasan model seperti itu. Karena dia percaya kabar baik akan selalu langsung dibagi tanpa diminta. Karena berbagi kebahagiaan itu Indah.
Dan, ketika mereka bertanya seperti itu sangat enteng adalah tidak lain tidak bukan karena mereka tidak di posisi kita atau bahkan tidak pernah berada di posisi seperti kita.
Stop pertanyaan basa - basi yang menyakiti. Gantilah dengan do'a terbaik. Itu jauh lebih barokah karena akan kembali pada orang yang mendo'akan.
0 comments:
Post a Comment