Wednesday, 22 March 2017

Koma





Sekitar 3 tahun lalu.
Aku selalu merasa sesak di dada.
Pergilah aku ke spesialis penyakit dalam. Dokter maksudnya. Bukan orang yang bikin penyakit dalam. Ternyata aku kena maag akut. Pantesan ya aku sering banget mual kepengen muntah, kepala pusing, sesak napas. Pernah tepar selama 2 bulan. Dan aku melakukan hal, norak dan mainstream tiap kondisiku aku tulis jadi status bbm, fb, twitter, dan semua medsos yang aku punya. Bwahaha pancen alay tenan. Aku gak ngebayangin yang baca pada ilfeel kali ya tiap hari hampir lebih dari 5x nyetatus "Aduh... maag ku kumat (emot ijo)". Lagi "otw dokter Farid". Lagi "kok gak sembuh - sembuh ya... aku pengen cepat sembuh". Lagi - lagi "Mual banget peyutku". Lagi - lagi - lagi, "Minum obat lagi. Uuuh bosen". Lagi - lagi - lagi dan lagi, "kepala pusing, sesak napas, peyut sakit" dan sebagainya yang aku sendiri mungkin ilfeel kalo baca sekarang. Haha...

Sampe akhirnya aku ketemu teman - teman yang ngasih aku semangat untuk tak terlalu memposting terlalu intens apa yang kita alami. Bahasa kerennya ojo terlalu show on. Dan berpikirlah positif. Perlahan aku mulai mengurangi emot hijau yang ada di bbm. Lalu, mulai mengurangi status sambat. Dan juga mulai tidak upload poto obat. Aku ngerasain sih manfaatnya itu seperti sugesti positif untuk diri kita dan orang lain. Yah walaupun sakit itu masih sering kambuh setidaknya dengan mengurangi mengeluh tidak menambahi rasa sakit itu. Karena semakin sambat akan semakin berat apapun itu tidak hanya untuk penyakit. Makanya, walopun sedang sakit pun aku berusaha ceria di depan orang - orang. Itu, bakal ngurangi rasa sakit. Walopun nanti kalo ketemu kasur ya kerasa lagi.
Akhirnya temenku yang ngasih sugesti positif ke aku sering menjadikan aku contoh untuk menyemangati Anak - anak SMA yang lagi sakit. Penyakit itu emang ada. Tapi kekuatan pikiran juga merupakan faktor penyumbang yang tak bisa dianggap remeh.
Hidup ini masalah. Kalo gak ada masalah gimana kamu bisa berlatih untuk berlomba jadi pribadi juara? Jadilah orang yang renyah, ceria.
Aku pernah jadi orang segalau - galaunya. Karena aku tipe orang yang bahagia sefull full nya ampe tumpah tumpah dan sedih sesedih - sedihnya. Tapi, ternyata swear deh yes enak jadi bahagia. Mutlak deh ya enak bahagia! Dulu aku suka sekali mendengarkan music galau. Padahal itu yang makin bikin kita cengeng. Jadi baper sebaper bapernya dan galau segalau galaunya. Apalagi aku orangnya ingatannya tajam (kata mereka) jadi kalo ada lagu apa langsung inget apa. Nyium bau parfum apa ingetnya apa. Eddaaah... Jan lebay bin alay ya. Hehe. Ya gapapa ya kalo gak gitu gak akan bersyukur bahwa kehidupan selalu ada pro dan kontra, kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan.

Aku memang nada dasarnya tinggi. Suaraku amat cempreng dan kencang jika berbicara. Tapi, bukan berarti jika aku seperti itu aku tidak ada baiknya sama sekali. kamu tau terkadang untuk mensupport seseorang tidak harus dengan kata - kata yang landai, halus agar orang yang disemangatin maju. Kalimat "Kamu pasti bisa" terlalu biasa karena aku tak suka hal yang biasa. Aku lebih suka memakai kalimat yang agak keras "kamu tau nggak? Kalo kamu gak maju - maju ada berapa orang yang kamu kecewain?" Nah, aku lebih suka kalimat model seperti ini kesannya lebih membakar. Tapi, bahayanya jika bertemu dengan orang kalem. Bisa jadi akan ditanggapi dengan tersinggung "Iya aku emang gak maju - maju. Iya aku emang sering ngecewain orang". Beeeeuuuhhh... pyar pyar dyeeer... Akhirnya sama - sama mewek.

Udah, ah... ini malam nglantur amat ya... Tulisan gak penting... :v

0 comments:

Post a Comment