Thursday, 20 April 2017

Babak baru Hanju





Apakah sendiri itu sepi?
Apakah sepi itu selalu datang untuk orang yang sendiri?
16 April 2017
Sebuah tema baru dalam 7 Minggu 5 hari itu Hanju. Lengkapnya Hanjuang. Seperti nama skoteng ya? Memang... Aku memanggil nama janin ku dengan panggilan "Hanju". Yang aku pikir dia akan menghangatkan keluargaku. Aku sudah menikah kurang lebih 9 bulan sejak Juli tahun lalu. Tidak seperti pasangan yang marak di sekitarku yang cepat dikasih momongan aku berbeda. Aku terbilang agak lambat. Hingga tak jarang banyak pertanyaan yang mungkin bagi penanya hal biasa tapi bagiku terkadang cukup membawa lara. Ah, sudahlah. Prinsipku di manapun aku harus selalu jadi sosok yang periang, ceria, ringan kaki dan tangan. Hingga aku tahu bahwa aku hamil dan janinku tidak berkembang. Aku berusaha tidak mempercayainya. Tapi, kenyataannya memang demikian. Lalu diputuskanlah untuk diambil. Kusiapkan mentalku dalam - dalam karena suamiku sedang tidak bersamaku. Malamnya suamiku pulang aku mengajak berpindah dokter aku berharap hasilnya berbeda. Tapi, nyatanya sama saja karena jaringan yang tersisa masih banyak harus dibersihkan total.
Yaa, mungkin Hanju memang ingin bebas. Bukan di rahimku. Jika itu maumu, Hanju. Mama rela.

Aku jarang bersentuhan langsung dengan yang namanya rumah sakit kecuali menjenguk pasien. Tapi kali ini aku akan masuk untuk menjalani tindakan pengambilan sisa jaringan janin. Mulai dengan jarum invus yang masuk ke tangan. Aku pikir akan sakit tapi ternyata selama sugesti pikiran kita bilang "tidak sakit. Ini biasa" ternyata gak keluar juga kata "aww". Kata petugas penginvus lingkar tanganku terlalu kecil. Lalu aku dapat kamar. Petugas mengantarku dengan menggunakan kursi roda. Hingga akhirnya aku masuk kamar di lantai 3. Satu ruang kamar berisi 3 pasien. Kananku adalah pasien yang habis melahirkan, kiriku adalah pasien yang sama denganku tapi ini yang ke-2x untuk dia. Aku lihat - lihat jam terus menunggu hingga pukul 09.00 wib. Karena aku sudah janjian sama opa (panggilan ku untuk dokter). Lalu bidan datang ke ruangan ku untuk mendataku. Lalu berapa pulih menit kemudian namaku dipanggil dan aku dijemput bidan menggunakan kursi roda menuju ruang tindakan. Di sana nampak opa dengan kemeja putih yang dilingkis lengannya sedan duduk seperti mengamati data yang diterimanya. Aku berbaring di kasur yang tidak terlalu besar. Bidan bilang "Mbak, nanti mimpi yang indah ya."
Aku balik tanya dengan panik "Memangnya bius total?".
"Iya. Makanya nanti mimpinya yang indah".
Yaa Tuhan, tiba - tiba aku berimajinasi bidan ini sambil menyuntik dan ketawa jahat. 😂 Padahal bidannya baik banget. Hihi. Jujur aku gak tau aku mau dibegimanain. Sengaja juga gak browsing biar natural aja. Sekalian aku coba belajar kontrol diri dalam situasi yang menegangkan. Ketika disuntikkan obat bius aku masih berimajinasi dan berkata dalam hati "coba aja bisa bius aku atau enggak." Eeeleeeeh, gak ada satu menit juga Uda klenger 😂 yang aku inget cuma bidan bilang ke opa "dok, Uda siap".

Yaa Tuhan, aku mau diapain 😂 pasrah dah pasrah... Aku mimpi keliling brown canyon bareng bidan - bidan tadi. Kayaknya baru merem aku Uda bangun aja. Semua jadi kayak cebol bentuknya. Wkwkwkwk. Efek obat bius membuatku ndrememel gak jelas.
.
.
.
Babak baru dalam kehidupan dimulai lagi.  Mulai dari awal lagi.
Aku percaya Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan pada waktu yang tepat pula.  Bismillah #staystrong

0 comments:

Post a Comment