ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
BERBAGI PRAKTIK BAIK BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH
SMKN 1 KALITENGAH
CGP ANGKATAN 5KAB. LAMONGAN
A. LATAR BELAKANG
Menurut filosofi Ki
Hadjar Dewantara tujuan pendidikan adalan menuntun anak sesuai kodrat alam dan
kodrat zaman agar selamat dan bahagia. Anak terlahir bukan seperti kertas
kosong namun sudah memiliki garis – garis namun masih samar. Guru berperan
untuk menebalkan dan mempertegas garis – garis tersebut dengan cara menuntun
anak atau merawat anak. Menuntun anak harus dibersamai dengan budaya yang
positif. Budaya Positif di sekolah bisa dimaknai perwujudan dari nilai - nilai
atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah dan berpihak pada murid. Nilai
– nilai universal yang terdapat di sekolah bisa ditandai dengan murid berprofil
pelajar pancasila yang memiliki 6 dimensi yaitu Beriman, bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan
global, bergotong royong, kreatif.
Budaya Positif di
sekolah dapat diawali dengan disiplin positif. Disiplin dari segi pandang budaya
dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk
mendapatkan kepatuhan. Sedangkan Disiplin menurut Gossen dimaknai Seorang murid,
atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti
suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah
motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Ki Hadjar Dewantara menyatakan untuk
menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang
kuat. Disiplin yang kuat datangnya dari
diri sendiri dan merupakan motivasi internal. Sebagai pendidik sudah seharusnya
Menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku
dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi
intrinsik, bukan ekstrinsik. Pendidik dapat mengajak anak untuk membuat
keyakinan kelas bersama – sama untuk menuangkan nilai – nilai kebajikan
universal dari dimensi profil pelajar pancasila, Sehingga dengan adanya
keyakinan kelas tidak akan lagi ada tindakan untuk mengatasi anak dengan
hukuman atau konsekuensi namun bisa menggunakan restitusi. Memahami lima
kebutuhan dasar murid dan penerapan lima posisi kontrol juga sangat penting
untuk menciptakan budaya positif di sekolah.
B. TUJUAN
Menumbuhkan budaya positif sekolah kepada guru SD, SMP, SMA, SMK melalui disiplin positif dan nilai – nilai kebajikan universal, Mencerahkan miskonsepsi tentang posisi kontrol guru dan kebutuhan dasar manusia, serta mengimbaskan penanganan masalah pada murid melalui langkah restitusi.
TOLOK UKUR KEBERHASILAN
Dinyatakan berhasil jika :
- Murid dan guru dapat memahami dan mempraktekkan disiplin positif dan nilai – nilai kebajikan universal serta dituangkan dalam keyakinan kelas
- Perubahan pemahaman tentang posisi kontrol guru dan kebutuhan dasar manusia
- Menjadikan restitusi sebagai langkah menangani murid bukan dengan hukuman dan konsekuensi
D. DUKUNGAN
YANG DIBUTUHKAN
Dukungan yang dibutuhkan adalah :
- Kepala sekolah
- Teman sejawat (Guru dan Tenaga kependidikan)
- Murid
- Wali murid
- Lingkungan masyarakat
E. LINIMASA KEGIATAN
- Koordinasi dengan kepala sekolah untuk melaksanakan aksi nyata “webinar berbagi praktik baik budaya positif di sekolah” dengan moda daring
- Menyusun materi melalui Power Point
- Mendesign undangan digital melalui
canva
- Mengunggah undangan digital di media social
serta menghubungi pribadi guru yang menjadi peserta. Peserta guru merupakan
guru SD, SMP, SMA, SMK yang berasal dari berbagai kota, yaitu Lamongan,
Bojonegoro, Lombok, Purwokerto, Semarang, Salatiga.
- Mempersiapkan laptop dan aplikasi
perekam layar laptop.
- Pelaksanaan webinar melalui google
meet pada jadwal yang telah ditentukan.
F. REFLEKSI
Pada aksi nyata
berbagi budaya positif dengan moda daring saya berfikir awalnya tidak akan
mengalami kendala yang banyak. Namun, ternyata saat webinar berlangsung power
point saya tidak terekam. Hanya suara yang nampak. Tapi, itu tidak masalah
karena Power point saya masih bisa dilihat dengan jelas oleh peserta webinar.
Di sekolah saya terdapat 2 Calon Guru Penggerak. Saya memilih moda daring ini
agar jangkauan penyebaran budaya positif ini semakin luas. Karena teman saya sudah
pengimbasan di sekolah dengan moda luring, saya rasa jika dengan materi yang sama
yaitu “budaya positif” akan ganda acara seminarnya. Saat webinar awalnya saya
merasa gugup untuk menyampaikan materi karena peserta yang mengikuti webinar
pastilah juga guru – guru hebat. Tapi, karena ini materi sangat bagus dan pasti
akan bermanfaat jika disampaikan saya mulai percaya diri untuk menyampaikan. Setelah webinar saya di hubungi oleh beberapa
guru yang menjadi peserta. Beliau menyatakan bahwa ternyata restitusi, posisi
kontrol, serta memehami kebutuhan dasar manusia itu luar biasa dan belum pernah
mendapatkan materi sebelumnya dan minta diundang kembali jika ada aksi nyata. Serta terkait keyakinan kelaspun tak lepas dari sorotan dari peserta webinar. Karena saat saya menjelaskan saya beri contoh untuk menjelaskan mengapa harus keyakinan kelas bukan peraturan kelas. Semoga berbagi praktik baik ini dapat bermanfaat untuk diri saya dan guru - guru. Di akhir sesi pun saya mengungkapkan harapan saya agar guru - guru peserta webinar dapat menyebarkan materi ini ke teman sejawat di sekolah masing - masing.
G. LAMPIRAN :
l
![]() |
| Murid berproses menuliskan curah pendapatnya untuk membuat keyakinan kelas |
![]() |
| Murid menempel sticky note di papan tulis |
![]() |
| Guru melakukan langkah restitusi bersama murid di gazebo |
![]() |
| Guru mengajak murid untuk menempel curah pendapatnya secara acak |

.jpeg)





0 comments:
Post a Comment