Saturday, 17 September 2022

ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF






BERBAGI PRAKTIK BAIK BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 

OLEH : RENNY PUSPITASARI, S.Pd. 

SMKN 1 KALITENGAH

CGP ANGKATAN 5

KAB. LAMONGAN




A.   LATAR BELAKANG

Menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara tujuan pendidikan adalan menuntun anak sesuai kodrat alam dan kodrat zaman agar selamat dan bahagia. Anak terlahir bukan seperti kertas kosong namun sudah memiliki garis – garis namun masih samar. Guru berperan untuk menebalkan dan mempertegas garis – garis tersebut dengan cara menuntun anak atau merawat anak. Menuntun anak harus dibersamai dengan budaya yang positif. Budaya Positif di sekolah bisa dimaknai perwujudan dari nilai - nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah dan berpihak pada murid. Nilai – nilai universal yang terdapat di sekolah bisa ditandai dengan murid berprofil pelajar pancasila yang memiliki 6 dimensi yaitu Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif.

Budaya Positif di sekolah dapat diawali dengan disiplin positif. Disiplin dari segi pandang budaya dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Sedangkan Disiplin menurut Gossen dimaknai Seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Ki Hadjar Dewantara menyatakan untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat.  Disiplin yang kuat datangnya dari diri sendiri dan merupakan motivasi internal. Sebagai pendidik sudah seharusnya Menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Pendidik dapat mengajak anak untuk membuat keyakinan kelas bersama – sama untuk menuangkan nilai – nilai kebajikan universal dari dimensi profil pelajar pancasila, Sehingga dengan adanya keyakinan kelas tidak akan lagi ada tindakan untuk mengatasi anak dengan hukuman atau konsekuensi namun bisa menggunakan restitusi. Memahami lima kebutuhan dasar murid dan penerapan lima posisi kontrol juga sangat penting untuk menciptakan budaya positif di sekolah.

B.  TUJUAN

Menumbuhkan budaya positif sekolah kepada guru SD, SMP, SMA, SMK melalui disiplin positif dan nilai – nilai kebajikan universal, Mencerahkan miskonsepsi tentang posisi kontrol guru dan kebutuhan dasar manusia, serta mengimbaskan penanganan masalah pada murid melalui langkah restitusi.

TOLOK UKUR KEBERHASILAN

Dinyatakan berhasil jika :

  • Murid dan guru dapat memahami dan mempraktekkan disiplin positif dan nilai – nilai kebajikan universal serta dituangkan dalam keyakinan kelas
  • Perubahan pemahaman tentang posisi kontrol guru dan kebutuhan dasar manusia
  • Menjadikan restitusi sebagai langkah menangani murid bukan dengan hukuman dan konsekuensi

D.  DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Dukungan yang dibutuhkan adalah :

  • Kepala sekolah
  • Teman sejawat (Guru dan Tenaga kependidikan)
  • Murid
  • Wali murid
  • Lingkungan masyarakat

E.   LINIMASA KEGIATAN

  • Koordinasi dengan kepala sekolah untuk melaksanakan aksi nyata “webinar berbagi praktik baik budaya positif di sekolah” dengan moda daring
  •       Menyusun materi melalui Power Point
  • Mendesign undangan digital melalui canva
  • Mengunggah undangan digital di media social serta menghubungi pribadi guru yang menjadi peserta. Peserta guru merupakan guru SD, SMP, SMA, SMK yang berasal dari berbagai kota, yaitu Lamongan, Bojonegoro, Lombok, Purwokerto, Semarang, Salatiga.
  • Mempersiapkan laptop dan aplikasi perekam layar laptop.
  • Pelaksanaan webinar melalui google meet pada jadwal yang telah ditentukan.

F.   REFLEKSI

Pada aksi nyata berbagi budaya positif dengan moda daring saya berfikir awalnya tidak akan mengalami kendala yang banyak. Namun, ternyata saat webinar berlangsung power point saya tidak terekam. Hanya suara yang nampak. Tapi, itu tidak masalah karena Power point saya masih bisa dilihat dengan jelas oleh peserta webinar. Di sekolah saya terdapat 2 Calon Guru Penggerak. Saya memilih moda daring ini agar jangkauan penyebaran budaya positif ini semakin luas. Karena teman saya sudah pengimbasan di sekolah dengan moda luring, saya rasa jika dengan materi yang sama yaitu “budaya positif” akan ganda acara seminarnya. Saat webinar awalnya saya merasa gugup untuk menyampaikan materi karena peserta yang mengikuti webinar pastilah juga guru – guru hebat. Tapi, karena ini materi sangat bagus dan pasti akan bermanfaat jika disampaikan saya mulai percaya diri untuk menyampaikan. Setelah webinar saya di hubungi oleh beberapa guru yang menjadi peserta. Beliau menyatakan bahwa ternyata restitusi, posisi kontrol, serta memehami kebutuhan dasar manusia itu luar biasa dan belum pernah mendapatkan materi sebelumnya dan minta diundang kembali jika ada aksi nyata. Serta terkait keyakinan kelaspun tak lepas dari sorotan dari peserta webinar. Karena saat saya menjelaskan saya beri contoh untuk menjelaskan mengapa harus keyakinan kelas bukan peraturan kelas. Semoga berbagi praktik baik ini dapat bermanfaat untuk diri saya dan guru - guru. Di akhir sesi pun saya mengungkapkan harapan saya agar guru - guru peserta webinar dapat menyebarkan materi ini ke teman sejawat di sekolah masing - masing. 

G.     LAMPIRAN : 

l


Guru menyimpulkan hasil curah pendapat murid


Murid berproses menuliskan curah pendapatnya untuk membuat keyakinan kelas


Guru mengarahkan untuk menempel sticky note curah pendapat secara acak


Murid menempel sticky note di papan tulis


Guru melakukan langkah restitusi bersama murid
Guru melakukan langkah restitusi bersama murid di gazebo


Guru mengajak murid untuk menempel curah pendapatnya secara acak


Undangan Webinar




Berikut adalah 2 link youtube karena saat unggah di youtube terjadi error 

Link praktik segitiga restitusi https://www.youtube.com/watch?v=JLAL_d5yX-U&t=47s

0 comments:

Post a Comment