Thursday, 27 October 2022

3.1.a.8.1.BLOG RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1





 

BLOG RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Menurut saya dari kutipan kalimat di atas ini terkait dengan proses pembelajaran saya tentang dilema etika. Dilema etika yaitu Situasi saat seseorang dihadapkan pada keadaan yang keduanya benar namun bertentangan dalam pengambilan keputusan. Sebagai guru tentu saja kita ingin murid – murid mengalami kemajuan yang cepat dalam pembelajaran namun sebagai guru kita juga tidak boleh lupa bahwa pembelajaran yang bermakna itu juga sangat penting seperti penanaman karakter dan budi pekerti yang baik.

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

Keputusan diambil dengan memperhatikan nilai – nilai atau prinsip – prinsip : Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based-Thinking), Berpikir Berbasis peraturan (Rule-Based-Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based-Thinking) dengan juga  melihat dari 3 dasar pengambilan keputusan, yaitu : Berpihak pada murid, Berdasarkan nilai[1]nilai kebajikan universal, Bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dari hal – hal tersebut saya percaya bahwa akan memberikan dampak pada lingkungan dengan kondusif, aman, nyaman.

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Sebagai pemimpin pembelajaran melakukan kontribusi dengan membuat pembelajaran yang menyenangkan, memahami  murid bahwa murid sudah memiliki kodratnya dan sebagai guru menuntun murid untuk menemukan potensinya yang lebih maksimal. Selain itu, menyajikan pembelajaran yang berdiferensiasi dengan memperhatikan kesiapan belajar murid, minat atau juga profil belajar murid. Sehingga kebutuhan individu murid dapat terpenuhi. Intinya semua pembelajaran dipusatkan untuk keberpihakan kepada murid.

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Menurut saya pada pembelajaran modul ini memberikan wawasan dan informasi bahwa pengambilan keputusan itu tidak mudah. Pengambilan keputusan bisa terkait kasus yang dilema etika ataupun terkait kasus bujukan moral. Semuanya pasti ada resikonya. Pengambilan keputusan itu melalui tahapan – tahapan dan pemikiran – pemikiran. Terkait pengambilan keputusan pastilah ada hikmah dan pelajaran yang bisa dijadikan pelajaran yang mendidik sesorang untuk berprilaku yang etis. Karena sejatinya pimpinan (kepala sekolah) saat mengambil keputusan atas suatu kasus inginnya yang memberi manfaat kepada orang banyak utamanya yang berpihak pada murid.

KONEKSI ANTAR MATERI

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Seorang pemimpin bisa menjadikan Pratap Triloka sebagai acuan atau gambaran dalam pengambilan keputusan.

Ing Ngarso Sung tuladha, Didepan memberikan contoh atau tauladan yang baik. Sebagai pemimpin harus memiliki contoh yang baik. Saat pengambilan keputusan jika pimpinan adalah pemberi contoh yang baik, bawahan pasti akan lebih mudah untuk menerima dan tidak terjadi pergesekan.

Ing Madya Mangun Karsa, Di tengah memberikan semangat. Sebagai pemimpin sudah seharusnya juga memiliki upaya menyemangatai, memberikan motivasi kepada orang lain. Menyemangati orang lain untuk memberikan versi terbaiknya termasuk saat pengambilan keputusan juga disesuaikan dengan kepentingan orang banyak.

Tut wuri handayani, Di belakang sebagai pendorong. Pemimpin memberikan dorongan kepada bawahannya, guru memberikan dorangan kepada murid – muridnya. Misalnya Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru mampu memeberikan dorongan kepada murid untuk memutuskan memilih produk pengerjaan tugas yang sesuai dengannya.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Menurut saya setiap manusia memiliki nilai – nilai yang tertanam dalam dirinya yaitu nilai kebajikan. Nilai - nilai kebajikan yang ada pada seseorang tersebut menurut saya akan berpengaruh juga kepadanya saat proses pengambilan suatu keputusan. Orang yang sabar saat pengambilan keputusan tentu tidak akan “grusa-grusu” dan cenderung lebih mengamati dan mencari fakta – fakta yang kuat untuk selanjutnya dilengkapi dengan tahapan – tahapan yang lain barulah mengambil keputusan yang dirasa dapat bermanfaat untuk orang yang lebih banyak..

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Coaching bertujuan untuk menggali potensi yang dimiliki baik itu coach maupun coachee. Coaching yang baik adalah yang menganut unsur alur TIRTA. Dari proses coaching ini banyak muncul solusi –solusi dan permasalahan – permasalahan di mana dalam coaching ini akan lebih mengerti ke depannya harus seperti apa dan bagaimana dari hasil penggalian informasi ini termasuk efektif dalam pengambilan keputsan, karena coachee sudah mampu untuk menemukan solusinya sendiri.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Saya pikir akan sangat berpengaruh. Karena aspek sosial dan emosional jika tidak dikendalikan dengan baik akan berdampak negative apalagi ini yang berkaitan dengan dilemma etika yang jelas – jelas harus jeli melihat sisinya. Oleh karena itu harus dikelola dengan baik caranya adalah mengerti dan memahami Kompetensi Sosial Emosional yaitu kesadaran diri (self awareness), manajemen diri (self management), kesadaran sosial (social awareness),  kemampuan berelasi (relationship skill) dan pembuatan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision making).

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pendidik harus memiliki nilai – nilai kebajikan yang dapat dijadikan contoh yang baik oleh murid – murid. Selain harus memiliki nilai – nilai kebajikan, pendidik juga harus mampu konsisten atau punya prinsip untuk kuat memegang nilai – nilai yang dianutnya. Pendidik harus peka menganalisis kasus yang dihadapi itu termasuk moral atau etika agar bisa menentukan langkah – langkah pengambilan keputusan yang tepat.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan pastilah tidak mudah. Namun, sesulit apapun pengambilan keputusan apalagi untuk permasalahan yang sama – sama benar, kita perlu mendasarkan keputusan pada 3 unsur, yaitu :

  • Berpihak pada murid,
  • Berdasarkan nilai – nilai kebajikan universal,
  • Bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil

Dengan 3 unsur tersebut akan tercipta kondisi yang positif, kondusif, nyaman dan tidak mudah mengalami kegaduhan.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangannya tidak semua orang memiliki sudut pandang yang sama terhadap suatu masalah kasus dilema etika. Dan setiap keputusan pastilah tidak bisa memuaskan semua pihak. Terkait perubahan paradigma yaitu; Individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, jangka pendek lawan jangka panjang. Dengan perbedaan – perbedaan ini, sejauh ini tidak mengancam perpecahan.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Sebagai pendidik keputusan kita untuk memerdekakan murid dalam pembelajaran adalah sangat penting. Cara yang dapat dilakukan salah satunya adalah memfasilitasi dengan membuat pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran ini dapat memenuhi kebutuhan individu murid yang karakteristiknya beragam. Sehingga murid tidak merasa tertekan dan dapat mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kebutuhannya.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa murid terlahir dengan kodratnya masing – masing. Menggunakan sistem among adalah tepat karena murid sejatinya tinggal diarahkan agar lebih jelas kemana arahnya.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Modul 3.1 memberikan pengetahuan tentang cara pengambilan keputusan yang benar dengan bedasarkan 3 unsur yaitu : Berpihak pada murid, nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab terhadap segala konsekuensi. Selain itu bisa dikaitkan juga dengan pratap triloka Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan nilai dan peran guru penggerak seyogyanya menyebarluaskan budaya positif yang di dalamnya tentu saja terdapat visi dan prakarsa perubahan yang ingin dicapai. Visi dan prakarsa perubahan muaranya semata – mata haruslah yang berpihak pada murid dan langkah yang efektif dengan menyusun BAGJA yang bermuara untuk mencetak murid ysng berprofil pelajar pancasila. Sebagai salah satu upaya keberpihakan kepada murid yaitu dengan menyajikan pembelajaran yang berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan individu murid. Sebagai guru atau pendidk sudah seharusnya juga untuk mengembangkan pembelajaran Sosial Emosional karena seorang pendidik harusnya peka dengan kesadaran sosial dan emosional agar mudah dan menjaga tetap bisa fokus dan tidak kacau. Sebagai bentuk instropeksi dalam pembelajaran seorang guru juga harus dapat mencari referensi dan saling berbagi dengan teman sejawat untuk saling meningkatkan kompetensi dalam mengajar murid. Untuk itu dapat dilakukan coaching untuk supervise dengan langkah pra observasi, observasi dan pasca observasi. Hal ini dapat dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi dalam mengajar unuk saling bertukar pengalaman. Coaching juga dapat dilakukan untuk memecahkan masalah non akademik.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

4 Paradigma pengambilan keputusan :

  • Individu lawan kelompok (individual Vs Community)
  • Rasa Keadilan lawan rasa kasihan (Justice Vs Mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (Truth Vs Loyalty)
  • Jangka Pendek lawan jangka panjang (Short term Vs Long Term)

3 Prinsip pengambilan keputusan :

  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan :

  • Mengenali nilai – nilai yang saling bertentangan
  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  • Kumpulkan fakta – fakta yang relevan dengan situasi ini
  • Pengujian benar atau salah
  • Pengujian paradigm benar lawan benar
  • Melakukan prinsip resolusi
  • Investigasi opsi Trillema
  • Buat Keputusan
  • Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Menurut saya hal diluar dugaan adalah pada langkah pengujian paradigma benar atau benar. Mengalami uji berlapis lapis, namun ternyata jika terbukti masuk di uji hukum gagallah sudah untuk dilanjutkan sudah pasti itu masuk bujukan moral bukan dilemma etika.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah. Namun bedanya langkah yang saya gunakan dalam pengambilan keputusan tidak sepanjang dalam modul ini.

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampaknya sangat luar biasa. Saya baru menyadari bahwa ada kasus yang bisa dikategorikan dengan 2 hal yaitu kategori kasus dilemma etika dan bujukan moral. Setelah mempelajari modul ini saya jadi sering membayangkan tentang konsep – konsep yang ada di modul ini dan mempraktekkannya saat ada kasus. Dan ternyata mengambil keputusan itu selain tidak gampang juga ternyata memiliki langkah – langkah yang panjang , dan perlu memperhatikan 3 unsur sebagai dasar pengambilan keputusan dan harus memahami betul paradigma pengambilan keputusan yang ada pada suatu kasus. Serta harus menggunakan juga 3 prinsip pengambilan keputusan.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting. Baik menjadi individu atau pemimpin tidak akan pernah lepas dari yang namnya pengambilan keputusan karena masalah yang mebutuhkan pengambilan keputusan pasti pernah ada. Utamanya pemimpin terhadap bawahannya misal kepala sekolah dengan guru – guru dan karyawan ataupun guru dengan murid – muridnya yang ada kasus.

 

 


 

 

 

 

 

 

0 comments:

Post a Comment