Sahabat sebercanda ini...
Kamis, 7 September 2017 adalah hari yang membahagiakan bagi Iful. Karena Iful bahagia akupun tentu juga bahagia.
.
.
.
Tiba - tiba ingatanku terlempar ke tahun 2006. Saat aku baru pertama kali kenal Iful. Kalo ingat pertama kali kenal sama Iful otomatis akan menyeret ingatanku juga ke teman SD atau MI ku. Aku benar - benar percaya bahwa dunia ini sempit layaknya gambar peta...
Jadi dulu ceritanya aku punya teman waktu MI namanya Ami. Ami itu cowok loh ya... Namanya panjang tapi biasa dipanggilnya Ami. Kebetulan di kelasku jaman MI itu hanya ada 7 murid cowok. Nah, salah satunya Ami ini. Ami itu bisa dibilang sainganku untuk jadi nomer 1 di kelas. Ami anaknya kalem, rambut ikal, suaranya serak. Sering sekali dia menjadi rangking 1 di kelas. Tapi, pas kelas 6 dia kegeser dari aku. Tampak wajah kecewa. Tapi, dia tetap memberikanku selamat. Akhirnya tamat juga dari MI. Kebetulan aku pilih SMP atau MTs nya di kota. Dan Ami memilih sekolah di dekat rumahnya.
Kemudian kami jarang ketemu palingan sekali dua kali diadakan reoni dan itupun tak banyak yang datang. Akhirnya teman - teman malas juga mengadakan reoni. Haha...
.
.
.
Di sekolah yang baru nilai raportku memenuhi syarat untuk masuk ke kelas unggulan. Alhamdulillah. Naik ke kelas 2 pun aku masih bertahan di kelas unggulan. Beberapa teman harus rela tergeser keluar dari kelas unggulan dan diganti dengan teman - teman dari kelas lain yang nilainya lebih memenuhi syarat untuk di kelas unggulan. Sampai akhirnya ada murid bernama Rudi. Rudi jago matematika, bikin puisi, dan dia itu kalem nan serius, wajahnya lebih dewasa dari usianya. Haha... Sama halnya dengan aku, Rudi juga aktif di pramuka. Di pramuka kami seperti saudara. Sampai akhirnya berbagi cerita adalah hal yang biasa. Rudi menyadari bahwa rumahku adalah di Timur kota. Berbeda dengan dia yang rumahnya lebih dekat dengan kota dan sekolah. Sampai obrolan kami mengerucut kepada sosok Ami. Rudi bercerita bahwa rumah mbah nya ada di Timur kota yang tak lain adalah satu desa denganku namun beda Rukun Tetangga. Rudi juga mengatakan bahwa Ami adalah sepupunya. Waow,, dunia beneran sempit kayak peta. -_-
Bersahabat dengan Rudi itu menyenangkan karena dia tidak rese. Manutan. Haha... Akhirnya masa MTs pun selesai. Kebetulan sekolah ku pisah sama Rudi. Tapi, kami tetap komunikasi. Sekedar tanya kabar.
.
.
.
Di sekolahku yang baru, aku mulai menyesuaikan diri dengan teman - teman baru. Suatu ketika aku janjian dengan Zee temanku MTs. Kami janjian buat belanja - belanja manjah. Aku yang tak berniat beli sesuatu akhirnya merasa perlu untuk membeli celana jeans. Dasar aku terlalu percaya diri tidak bisa memperkirakan ukuran paha aku main langsung beli saja celananya. Karena sudah kadung suka dengan warnanya. Sampai rumah ku coba. Waoww. Spektakuler kedodoran. Lebih cocok untuk ukuran cowok. Kebetulan dalam waktu dekat ada reoni MTs di rumahnya Avista. Di sanalah aku beraksi agar aku tidak merugi. Haha. Aku menawarkan celanaku ke Rudi dengan jurus tenaga ahli pemasaran. Rudi pun menyatakan pikir - pikir. Sampai akhirnya dia menghubungiku dan menyatakan setuju untuk membeli celana kedodoran yang telah aku beli. Rudi bilang akan mengambil celananya sewaktu dia main ke rumah mbahnya. Aku pun menyetujui.
.
.
.
Rudi tiba - tiba mengirimkan pesan singkat mengatakan bahwa dia on the way rumahku. Karena aku belum mandi akhirnya aku hanya gosok gigi dan mencuci mukaku dengan sabun b*ore. Rudi mengambil celana di rumahku dan tak mau duduk dulu padahal sudah ku persilahkan. Dia bilang buru - buru. Ya sudahlah aku tak bisa menahannya juga
Lagian aku belum mandi. Lama - lama bisa ketahuan juga. Walopun sebenarnya ketahuanpun aku tak masalah karena aku berteman dengan Rudi tanpa jaim. Aku ya aku.
.
.
.
Beberapa hari kemudian HP ku berbunyi ada pesan singkat masuk. Aku tak mengenal nomernya. Aku abaikan. Jaman itu masih ngetrend sms modus ingin kenalan. Haha... Beberapa jam kemudian nomer itu lagi yang masuk. Masih aku abaikan. Karena dia tak memberi nama aku ogah untuk membalasnya. Sampai akhirnya dia memperkenalkan diri dan alamat rumahnya. Aku baru berani menjawab. Dia tulis di pesan singkat itu namanya Iful. Dan rumahnya satu kecamatan dengan rumahku. Dia belum cerita kalau dia adalah sepupu Rudi. Karena mungkin Iful takut aku marah ke Rudi yang sudah lancang memberikan nomerku ke Iful tanpa ijin. Haha... Aku ingat banget nama dia di ponselku aku tulis "Ifoel gc" maksudnya Iful gicu (Iful gitu). Lama - lama dia sering sms aku. Namanya anak SMA yaa curhat - curhatan tentang apa saja. Kebetulan selisih kelas kami 1 tahun. Dia adek kelas di sekolah yang berbeda dariku. Karena rumah kami searah Kadang aku sekolah nebeng dia kalo lagi males naik motor. Haha..
Pernah juga kami jalan - jalan bareng. Dia sering main ke rumah juga. Dikira ibukku, Iful itu pacarku. Haha. Sempat ibu bilang "bocah kok senengane mbek cah sing luwih enom". Soalnya kapan hari temanku yang adek kelas jaman SD juga pernah main ke rumah. Padahal ya gak ada apa - apa. Aku bilang ke ibu "la temenan". Ibuk malah nambahi "temenan atau temenan? Kayaknya anaknya sukak tuh." aku cuma diam.
.
.
.
Sampai akhirnya persahabatanku sama Iful berantakan. Selain aku intens ber-sms ria dengan Iful aku juga punya banyak teman. Dan saat itu aku mempunyai teman yang lebih dekat dari pada Iful. Iful tau itu dan entah apa entah bagaimana komunikasi kami rasanya tidak asik. Saling balasnya pun lama dan terkesan tidak nyambung lagi. Akhirnya kami sama - sama jauh. Aku jalan dengan kehidupanku dan dia dengan kehidupannya. Hari - hari berlalu begitu cepat. Hingga aku sudah masuk PTN. Memasuki tahun ke-2 Iful komunikasi dengan aku sekedarnya. Aku sempat ke warnet bareng dia lihat - lihat jurusan apa yang akan dia ambil ketika di PTN. Dia berdandan pasrah tak mengerti dan membiarkan aku cuap - cuap menjelaskan tentang PTN.
Aku kembali lagi ke kota tempatku mencari ilmu. Dan Iful kian jauh. Ku dengar dia tak lolos PTN dan kuliah di kota asalku. Tahun depannya dia mencoba lagi dan dia berhasil masuk PTN yang ada di Surabaya. Komunikasiku terjalin lagi dengan Iful sewaktu aku bertemu dengan Rudi. Aku meminta nomernya Iful. Dan akhirnya aku dapat juga pin BBM nya lalu kami komunikasi lagi. Memang tidak sedekat dulu karena kami sama - sama punya pacar. Tapi, setidaknya tidak secanggung waktu persahabatan kami berantakan seperti saat SMA itu. Aku pernah nitip formulir test Bahasa Jepang ke dia. Dan dia juga mengantarkan ke rumahku formulir test Bahasa Jepang itu.
.
.
Saat pernikahanku dia datang sendiri. Katanya sedang ada problem dengan pasangannya. Haha. Dan hari ini aku datang ke nikahannya juga sendirian. Aku nunggu di tempat duduk karena dia masih sibuk foto bersama keluarganya. Di sana aku juga bertemu dengan Ami bersama anak dan istrinya. Aku agak tidak enak sama istrinya. Tapi aku berusaha ceria dan ramah seperti biasanya. Soalnya Ami pernah bilang kalo istrinya pernah berpikir kalo aku ini mantannya Ami. Dan itu dibuktikan juga istrinya pas masih pacaran pernah chat aku di facebook niatnya bercanda ngatain aku mantannya Ami. La aku ya santai saja orang aku hanya berteman :D Pikirku tak ladeni saja alurnya kemana. Haha...
.
.
Saat mau makan aku bertemu dengan kakaknya Ami. Aku yang lupa wajahnya tapi si mbak malah nyapa aku "Renny yaa?" aku jawab mengiyakan sambil agak memeluk tubuhnya. Si mbak tanya lagi "udah ketemu?". Aku balik tanya "siapa, mbak?". Si mbak menjawab "Ami". Aku jawab "owh, udah kok tadi. Aku gak enak yo, mbak pas nikahnya Ami gak dateng". Si mbak balik tanya "la kenapa pas itu?" aku jawab "kayaknya pas itu aku lagi di Semarang, mbk". Percakapanpun berakhir karena makan. Hehe.
.
.
Seusai makan aku duduk sambil memainkan ponsel dan chat Rudi tanya kok dia tidak datang. Rudi jawab dia datang baru besok. Kebetulan Rudi sekarang tinggal di Sidoarjo. Di sebelahku ada ibu - ibu yang dandan riasan seperti orangtua manten sedang minum es. Tiba - tiba bertanya ke aku "mbak, rumahnya mana? Temannya Iful?". Sambil senyum ramah aku jawab pertanyaan ibu itu. Terus ibu itu memegang pundakku menyuruh aku foto sama Iful. Aku senyum sambil melirik ke arah Iful. Lalu aku buka lagi ponselku.
.
.
.
Tiba - tiba Iful datang. Aku salamin dia sambil bilang "Afgaaaaan" seperti biasa dia senyum malu sambil bilang "makasih ya uda mau dateng". Aku senyum. Tiba - tiba Ami bilang "Hei, ndang ayo foto". Akhirnya Iful mengajakku ke pelaminan untuk berfoto bersama istrinya. Seperti biasa dengan gaya khasku aku berkenalan dengan istrinya Iful. Memanggil Ami untuk memfotokan. Lalu aku pamitan untuk pulang. Setidaknya aku sudah memenuhi janjiku ke Iful. Iful pernah di BBM bilang "masak kamu gak pengen foto sama aku di pernikahanku?"
.
.
.
Iful, kamu bisa seperti adekku, kakak, bahkan sepantaran. Padahal kamu itu umurnya jadi adekku. Haha. Terimakasih ya untuk sikap polosmu yang kadang tak terduga itu. Berjanjilah untuk bahagia jangan galau lagi seperti kemarin - kemarin itu. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat sahabat bahagia. Happy wedding, Iful...
0 comments:
Post a Comment