Endoskopi Mesin 1.5 Milyar
Jadi ceritanya tanggal 11 Agustus aku itu di endoskopi... Jujur aku gak tau ya apa arti endoskopi itu. Pokoknya yang aku tau itu bakal ada kamera masuk ke perut aku. Sebenernya dokter belum nyuruh aku endoskopi. Tapi, aku tanya - tanya tentang endoskopi dan dokter melihat riwayatku di catatan pasien. Dokter awalnya bilang endoskopi itu tidak bisa langsung harus ada proses pengobatan dulu. Tapi, dokter akhirnya menyetujui setelah melihat riwayatku dan sepertinya memang aku sudah kelihatan parah dari cara ngomong saja sudah ngos ngosan. Bahkan dokter bilang besok pun bisa.
.
.
.
Esok harinya aku belum juga berangkat endoskopi. Nyiapin mental walaupun sebenarnya aku tidak terlalu takut karena aku benar - benar pengen tahu di dalam perutku itu ada apa dan kenapa rasanya badan selalu tidak karuan. Dan aku sering sendawa, sering kayak cegukan tapi bukan cegukan pokoknya seperti cekluk tapi bukan cegukan. Susah menjelaskannya.
.
.
.
.
Lusa akhirnya aku berangkat ke RS. Kali ini aku di bonceng menggunakan motor. Alaaaamaaaak... Rasa sakitnya dada muter punggung sakitnya luar biasa kalo kena goyangan sedikit saja. Sampek aku pegangi dada dan punggungku dengan tangan yang berbeda.
.
.
.
Sampai RS, aku langsung menuju ruang internist setelah antre. Ternyata aku harus test LAB dulu. Kebetulan ditest hepatitis dan HIV. Hasilnya alhamdulillah negative. Lalu aku daftar ke ruang endoskopi dan dapat jadwal endoskopi besok. Aku diharuskan puasa dari jam 2 pagi. Okelah aku pulang ke rumah. Aku sengaja tidak membuka mbah google agar tidak tahu bagaimana alat untuk eksekusi endoskopi.
.
.
.
Keesokan harinya aku langsung ke ruang endoskopi masih sepi. Aku tiduran di kasur. Mulai deg degan... Menunggu dokter berasa lama sekali... Batinku "ayo cepetan datang, dok. Penasaran di perutku ada apanya". Banyak support dari teman - teman. Tak lupa pula sebelum berangkat aku ijin keluarga. Mohon do'a restu sambil minta maaf.
.
.
.
Jam tangan ku lihat terus. Akhirnya sekitar jam 11.00 AM dokter datang. Bathinku "alhamdulillah". Akhirnya dokter dan teamnya menyuruh aku untuk masuk ke ruang tindakan. Akhirnya aku disuruh tiduran dengan posisi miring ke kiri seperti memeluk guling pula. Sebelum aku tiduran aku disuruh buka mulut lalu dibius. Batinku "Yaa Tuhan, ini apaan?". Maaf, baunya kayak teh busuk. Lidahku langsung terasa tebal tak berasa. Aku panik. Asisten dokter bilang itu wajar memang begitu. Akhirnya mulutku dikasih kayak benda yang membuat aku tidak bisa mingkem. Dan dokter sudah mulai memegang alat itu. Alat yang akan membuat lambungku dan ususku bisa selfie. Warnanya hitam mirip selang kecil mungkin diameternya seperti pensil 2B. Lalu aku tak terlalu memperhatikan. Dokter ibarat sopir alat bego yang mengoperasikan puter sana puter sini. Sesekali aku merasa huoook huoook. Tapi asisten dokter menyemangati aku "ayo gak boleh tegang. Lemes lemes lemes". Aku hanya bisa diam sambil sesekali merem dan berdo'a proses ini lancar dan cepat selesai. Team dokter malah cerita yang lucu - lucu. Mungkin biar aku tidak tegang. Yang terasa berat adalah ketika alat itu mulai masuk ke tenggorokan. Rasanya bener - bener ngeganjel. Pas di dalam perut aku cuma takut kalo alatnya nyangkut. Pas masuk di lambung kayaknya lama banget. Sambil ngambil makanan yang aku makan tadi malam. Tadi malam aku makan lele. Mungkin itu juga butiran debu nya si lele yang diambil. Hahaha Lama banget ambil itu bolak - balik. Pikirku dalam hati lama banget gak kelar - kelar pengen huok lagi ini perut rasanya mau mumbul tapi tidak jadi muntah. Lagi - lagi asisten dokter menyemangati aku "ayo lemes. Yang santai. Ayooo". Mohon maaf, sesekali lendir keluar karena memang posisi ya miring dan dimasuki alat. Akhirnya setelah mengambil isi perut tadi prosesi selesai. Dokter lalu ke depan komputer mengamati hasil tindakan. Sementara asisten - asisten memberi aku tissue dan membersihkan peralatan tindakan. Oh ya, kira - kira 5 menit sebelum tindakan berakhir dokter memanggil keluargaku untuk melihat isi perutku dari layar komputer. Sambil dijelaskan. Aku sempat mendengar dokter bilang ada yang merah. Tapi aku tidak paham itu apa. Kata dokter kalau orang normal tidak merah. Setelah tindakan benar - benar selesai aku bangun dari kasur dan aku diperlihatkan hasil yang tadi. Tapi, masih tidak terlalu paham karena hanya sekilas saja. Akan dijelaskan lebih lanjut saat hasil LAB sample makanan sudah keluar kira - kira 10 hari lagi. Aku juga bilang dan tanya ke dokter "dok, tenggorokan Saya kok agak lega ya gara2 lendirnya pada keluar. Trus itu tadi termasuknya gimana?". Dokter menjawab "jangan dipikirkan yang macam - macam dulu. Kita lihat nanti hasil lab. Ini kayaknya belum terlalu parah kok. Tapi, tunggu lab nya ya".
.
.
.
Di ruang tunggu masih di dalam area endoskopi aku menunggu hasil foto endoskopi dan malah ketemu temannya bapak yang diantar anaknya menggunakan kursi roda juga akan diendoskopi setelah aku. Anak itu malah bertanya ke aku yang baru saja keluar dari ruang tindakan "mbak, mbak Renny Yenny kan? habis endoskopi? Sakit apa? Rasanya gimana iw, mbk?" tanyanya penasaran sementara bapaknya sudah masuk ke ruang tindakan. Tak jawab "gak sakit cuma ngganjel pengen huok". Dia akhirnya cerita tentang sakit dari bapaknya. Lalu tak beberapa lama hasil foto endoskopiku jadi. Dan aku menerima hasil foto itu. Asisten bilang 10 hari lagi hasil LAB keluar. Tapi, asisten menyarankan aku menghubungi dulu manager biar lebih pasti sudah keluar atau belum hasilnya. Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
.
.
.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, aku jadi malas mengambil hasil endoskopi kayak ketakutan akan hasilnya. Aku mengumpulkan kekuatan mentalku untuk menerima segala hasil LAB dari proses endoskopi. Baiklah, aku datang ke rumah sakit 1 Bulan kemudian. Ternyata ruang endoskopinya kosong pikirku mungkin aku kesorean karena jam sudah menunjukkan pukul 02.00 PM. Tapi, dulu manager pernah bilang kalau bisanya proses endoskopi bisa sampai jam 04.00 PM. Akhirnya aku sms manager. Dan belum dibalas. Masih aku nunggu sambil istirahat duduk - duduk. Tiba - tiba ada mbak - mbak nyamperi aku ngajak ngobrol dan bertanya ke aku siapa yang sakit. Aku jawab aku yang sakit. La malah kaget. Gara - gara aku duduk cuma sendirian. Mungkin wajahku memang bukan seperti orang sakit. Setelah beberapa lama mengobrol sambil menghibur mbak - mbak yang sepertinya lagi sedih itu akhirnya aku pulang ke rumah.
.
.
Sesampainya di rumah manager meneleponku. Dan beliau masih ingat aku ketika aku bilang "saya Renny pasien yang kecil sakit lambung itu lo, bu". Beliau meminta maaf karena hari ini ada pelatihan. Beliau menawarkan agar aku mengambilnya besok. Tapi aku yang bisa. Lalu aku putuskan ambil 1 minggu kemudian. Ingin aku buka hasil LABnya. Tapi, paling aku juga tidak paham. Ku taruh di tas amplop berisikan hasil LAB ku. Beberapa minggu aku baru memutuskan konsul ke dokter tentang hasil lab dan hasil foto endoskopi.
.
.
.
.
Pagi - pagi setelah sarapan aku bergegas pergi ke tempat praktek dokter setelah malamnya aku mimpi buruk. Sambil membawa amplop hasil LAB dan amplop besar berisikan hasil foto endoskopi. Di tempat praktek aku bertemu muridku. Dia nampak lemah ternyata dia sedang, sakit dan bisa kutebak pasti dia sakit maag. Kompakan kita. Hiks hiks... Sambil menunggu panggilan, aku berbincang dengan ibu dari muridku tentang maag dan makanan apa yang tidak boleh dan boleh. Akhirnya malah saling bertukar informasi. Aku masuk ke ruangan dokter setelah muridku.
.
.
.
Di ruangan dokter aku menyerahkan amplop - amplop tadi. Lalu aku ditanya perkembanganku. Aku ceritakan aku masih sering sesak napas lagi. Padahal makanku sudah 4 - 5 kali sehari. Dan dokter menebak kalo jari - jariku keju. Itu semua karena efek dari lambung itu. Lalu seperti biasa dokter meng-USG aku di situ dokter bilang perbanyak karbo biar gemuk. Sampai aku diledeki tangan kok kecil sekali mengindikasikan aku jarang makan. Meskipun sudah sering tanya saat priksa dokter selalu mengulang pertanyaan yang sama yaitu menanyakan aku kerja di mana. Setelah ku jawab aku bilang ke dokter yang barusan tadi itu adalah muridku. Tambah dokternya tersenyum mungkin karena guru dan murid kok sakitnya sama. Setelah USG dokter kembali membahas isi dari amplop - amplop tadi. Dokter bilang "Di foto ini terlihat kamu punya kelainan esofagus ternyata. Ini ini... Kalo orang normal ndak ada kayak gini".
Aku balik tanya "esofagus? Apa itu, dok?" dokter menjawab biar aku mudeng dengan mudah "tenggorokan" sambil nunjuk tenggorokan. Trus dokter njelasin foto - foto yang lain. Lalu membuka amplop kecil hasil LAB. Langsung digaris bawahi sama dokter hasilnya. "Ini dia. Ini makanya maag nya ndak sembuh - sembuh. Ada kumannya". Belum selesai kaget dengan esofagus ini kaget lagi sama kuman. Alaamaak...
To the point aku tanya sama dokter "Dok, terus saya harus terapi apa biar kumannya minggat?". Dokter menjawab "Ya caranya harus diobati yang paling bisa ditempuh." Lalu aku nambahin lagi "Dok, mesti mahal ya obatnya?" wajahku sambil memelas. Dokter bilang "Ya memang agak mahal dibanding obat biasanya. Ya kira - kira mungkin dua mingguan bisa habis kurang lebih 1 juta". Sambil nulis resep. Lalu aku bilang ke dokter "Dok, itu bukan resep obat yang mahal itu kan? Soalnya saya gak bawa uang. Bokek, dok". Dokter menjawab dengan senyum "Ndaaak... Ini obat maagnya saja". Bahasaku ke dokter ini memang sudah biasa soalnya sudah langganan dari kecil. Hiks hiks hiks... Aku menambahi lagi "Dok, apa pasti bisa bersih kumannya kalo diobati itu?". Dokter menjawab "belum tentu bisa bersih". Lalu dokter njelasin alat pendeteksi kuman atau penghitung kuman atau alat apa gitu aku kurang paham. Wkwkkw. Sampai akhirnya dokter malah curhat tentang alat endoskopi yang sedang rusak. "Itu endoskopi alat harganya 1.5 milyar. Sekarang rusak. Dibenerin habis 30 juta sebulan kemudian rusak lagi". Aku reflek "Ha? 1.5 Milyar? Mahal beneer. Berati saya pernah pake alat 1.5 Milyar, dok? Untung pas lagi tindakan di saya kok ndak rusak di tengah jalan ya, dok".
Dokter menjawab dengan gaya khasnya "Ya begitulah. Ada yang ditanyakan lagi?".
Begini ini aku kalo pergi ke dokter itu bisa kayak sehat mendadak. Sampai lupa sama keluhannya apa saja. Tapi, nanti di rumah lak nglimpruk lagi. -_-
.
.
.
Sekarang aku jadi mengingat - ingat pas kecil aku pernah susah napas dan krongkonganku kayak mbulet gak plong ada lendir. Apakah itu tanda - tanda kelainan esofagus? Hmm...
.
.
.
Akhirnya aku tahu hasil endoskopiku. Walaupun hasilnya kurang menyenangkan aku harus terus berikhtiar untuk sembuh. Semangat sehat semangat sembuh!!
0 comments:
Post a Comment